CATATAN IMANKU

Hidup Dalam Dentuman Jihad, Mati Dalam Kemuliaan Syahid

KTI Pertamaku

PENERAPAN AQIDAH AL WALA’ WAL BARA’

DI PONDOK PESANTREN AL MIZAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN

 

 

KARYA TULIS ILMIAH

Untuk Memenuhi Persyaratan Kelulusan

PROGRAM IPA

Oleh:

Qoshdus Sabil

NISN: 9924172056

 

Kepada

MADRASAH ALIYAH MUHAMMADIYAH 9 LAMONGAN

YAYASAN PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN AL  MIZAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN

2011

__________________________________________________________________________

Karya Tulis Ilmiah dengan judul:

 

“PENERAPAN AQIDAH AL WALA’ WAL BARA’

DI PONDOKPESANTREN AL MIZANMUHAMMADIYAH LAMONGAN”

 


Oleh:

Qoshdus Sabil

NISN: 9924172056

 

 

Telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan pada tanggal,   2 Juni 2011 Oleh:

 

Pembimbing 1

 

 

Zuhroh Binadari, M. Pd

 

Pembimbing 2



Arfiyani, S.Pd.I

__________________________________________________________________________

Karya Tulis Ilmiah dengan judul:

 

“PENERAPAN AQIDAH AL WALA’ WAL BARA’

DI PONDOKPESANTREN AL MIZANMUHAMMADIYAH LAMONGAN”

 

 

Oleh:

Qoshdus Sabil

NISN: 9924172056

 

Telah dipertahankan di depan penguji pada tanggal, 7 Juni 2011

 

Dewan penguji:

Penguji I,

 

 Mahmudi, S.Pd

 

Penguji II,

 


Muhammad Hanif Mubin, S.Pd

 

Penguji III,

 

 

Muhammad Sholeh, S.Pd

 

 

Karya Tulis ilmiah ini diterima sebagai salah satu persyaratan kelulusan oleh yang:

 

Mengesahkan,

Direktur Ponpes Al Mizan Muhammadiyah Lamongan

 

 

 

 

 

Bpk. KH. Khoirul Huda

__________________________________________________________________________

MOTTO – SEKAPUR SIRIH

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS, Fushilat :41:30-32)

 

Setetes Racun Akan Membunuhmu,

 Dan Menjadikanmu Tak Mampu Berbuat Apapun,

Kehidupan Adalah Perjuangan,

Menyelamatkan Dirimu Dari Tetesan Itu,

Tetapi Tetap Menuju Fana,

Maka Pilihlah Cara Yang Terbaik Bagi Matimu Itu,

Yang Membawa Kemuliaan Di Surga,

Dan Jangan Sampai Kamu Mati Hanya  Karena Urusan Dunia,

Yang Akan Melemparkanmu Ke Neraka.

(Asy Syahid Insya Alloh, Jendral Khottob Rohimahulloh)

 

Tidak Semua Permusuhan Itu Tercela, Sebagaimana Tidak semua perdamaian Itu Terpuji, Tinggal Dengan Apa Kita Memandang Permusuhan Dan perdamaian Itu, Dengan Kaca Mata Alloh Atau Dengan Kaca Mata Syetan Thoghut Laknatulloh ‘Alaih.

__________________________________________________________________________

LEMBAR PERSEMBAHAN

Karya tulis ilmiah ini penulis persembahkan teruntuk:

  1. Ayah dan Ibuku serta Keluargaku yang senantiasa mendukungku dengan do’a dan usaha mereka, semoga Alloh senantiasa melimpahkan rahmat atas kalian. Amin…!
  2.  Seluruh Dewan Asatidz serta Bpk/Ibu dewan Guru PondokPesantren Al MizanMuhammadiyah Lamongan yang telah membinaku dan mengajariku Ilmu Agama Islam yang benar selama enam tahun di Pondokini. Semoga taufik, rahmat dan ampunan Alloh senantiasa menaungi kalian wahai ustadz-ustadzku.
  3.  Seluruh teman-temanku, adek-adek kelasku dan seluruh orang-orang yang menyempatkan diri untuk membaca karya tulis ilmiah ini. Semoga Alloh Senantiasa memberi Hidayah kepada kalian.
  4. Seluruh saudara-saudaraku di barisan para mujahidin yang sedang berjihad dengan sebenar-benarnya jihad di jalan Alloh SWT. Semoga Alloh Memberi pertolongan atas kalian. Semoga Alloh SWT senantiasa menepatkan bidikan kalian atas orang-orang kafirin dan munafikin. Semoga Alloh SWT segera memenangkan Islam Lewat tangan-tangan kalian.
  5. Untuk Ust. Abu Bakar Ba’asyir Rohimahulloh, semoga Alloh senantiasa memberi ketabahan   atas Beliau yang sekarang sedang di dholimi oleh orang-orang kafirin dan munafikin.

__________________________________________________________________________

KATA PENGANTAR

Yang Terhormat, Syaikh Usamah bin Laden semoga Allah Memasukkan Beliau Kedalam Golongan Hamba-hambaNya yang di Beri Nikmat Atas Mereka. Yaitu golongan para nabi, orang-orang yang selalu berbuat benar, golongan orang-orang yang mati syahid serta golongan orang-orang yang sholeh yang mereka semua itu adalah ahlul jannah, Insya Alloh…

Yang Terhormat Syaikh Ayman Adz-Dzowahiri…

Yang Terhormat Syaikh Mulla Muhammad Umar…

Dan kepada Semua Komandan Mujahidin di Iraq, Somalia, Maghrib Islami, Palestina, Filiphina, Thailand, dan Indonesia Serta para dewan asatidz/asatidza, semoga Allah menjaga dan merawat kalian semua…

Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Segala Puji bagi Allah yang Memuliakan Islam dengan memenangkannya dan menghinakan Kekufuran dengan mengalahkannya, dan menjadikan Pembeda dalam Kitab-Nya hingga terpecahlah manusia menjadi Dua Golongan, Satu Golongan berada di Surga dan Satu Golongan lagi berada di Neraka Sa’ier.

Sholawat dan Salam semoga terlimpah kepada yang diutus di ambang Hari Kiamat dengan Pedang dan memimpin Dunia dengan Keadilan , beserta Keluarga dan Para Sahabat serta yang menapaki Manhaj beliau hingga berlaku urusan Rabb-Nya (hari kiamat).

Amma Ba’du…

Dengan penuh kerendahan hati serta rasa tawadhu’ yang begitu mendalam, penulis ucapkan banyak terima kasih kepada:

  1. Ayah dan Ibu dan saudara-saudari serta keluarga yang senantiasa memotivasi penulis untuk senantiasa membuat prestasi di dalam kehidupan ini.
  2. Bpk. KH. Khoirul Huda, selaku direktur PondokPesantren Al MizanMuhammadiyah Lamongan.
  3. Bpk. Drs. Muslich, M.Ag, selaku kepala sekolah MA Muhammadiyah 9 Lamongan.
  4. Ustadza Zuhroh Binadari, M.Pd dan Ustadza Arfiyani, S.Pd.I, selaku pembimbing yang telah membimbing penulis untuk menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini sehingga dapat selesai dengan baik.
  5. Semua dewan Asatidz/dza dan Bpk/Ibu dewan Guru di Ponpes Al MizanMuhammadiyah Lamongan yang senantiasa ramah dan baik pada penulis.
  6. Semua adik kelas dan seluruh teman-temanku yang telah banyak menginspirasi penulis dalam menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini.
  7. Serta seluruh pihak yang tengah ikut membantu dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang mungkin dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini, penulis melakukan kesalahan-kesalahan pada sebagian atau banyak pihak. Baik itu kesalahan kecil maupun besar. Tetapi apabila kesalahan itu tidak di maafkan, maka penulis akan mengalami penyesalan nanti ketika hari pembalasan. Oleh karena itu, mohon semua kesalahan penulis untuk bisa di maafkan.

Akhirnya, tiada gading yang tak retak, tiada manusia yang sempurna, tiada sesuatupun yang sempurna dalam kehidupan ini. Karena Segala kesempurnaan hanya milik Alloh SWT. Begitu pula dengan karya tulis ilmiah ini, pastinya tidak sedikit yang salah. Oleh karena itu, penulis meminta kritik dan saran kepada seluruh pembaca yang budiman. Semoga dengan itu, karya tulis ini dapat lebih baik di kemudian hari.

Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

 

Lamongan,   Juni 2011

__________________________________________________________________________

BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Hari ini umat Islam telah berada dalam kepungan fitnah yang sangat luar biasa. Fitnah ini adalah fitnah syahwat dan fitnah subhat. Umat Islam telah terlalaikan dengan kehidupan dunia yang fana. Umat Islam bekerja pagi, siang malam, seluruh daya upaya telah dikerahkan, Tetapi sayangnya itu semua hanya diniatkan untuk kepentingan dunia, tanpa ada niatan untuk ibadah kepada Alloh SWT.

Umat Islam saat ini telah dilanda berbagai kerancauan, Umat Islam sekarang telah asing dengan agamanya, mereka lebih faham dengan seluk-beluk urusan dunia tetapi disisi lain, ironisnya umat Islam tidak tau menau dengan diennya, dienul Islam yang sudah jelas-jelas akan mengantarkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Menyikapi itu semua, berdirilah lembaga-lembaga pendidikan yang siap mencetak manusia-manusia berkaliber ulama’, ustadz dan kiyai, terkhususnya nama lembaga pendidikan ini adalah berupa Pondok Pesantren.

Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang dalam pendidikan pengajarannya sangat menekankan ajaran-ajaran dienul Islam. Didalam Pondok Pesantren para siswa/santri akan ditempa dengan sistem serta visi-misi Pondok Pesantren yang telah diciptakan dengan sedemikian rupa. Diharapkan pada nantinya akan tercipta produk-produk berupa manusia yang siap berda’wah amar ma’ruf nahi munkar, Yang rela dengan segenap harta, jiwa dan raganya untuk berjihad dijalan-NYA menegakkan syari’at Islam dimuka bumi dengan jihad yang sebenar-benarnya jihad. Akhirnya, Islampun semakin kuat dan berkuasa dalam seluruh lini kehidupan. Dengan begitu, Islam akan benar-benar menjadi agama rahmatan lil’alamin di muka bumi ini.

Melihat hal itu semua, musuh-musuh Islam bernama yahudi dan nashrani tidak akan pernah tenang dan tinggal diam. Mereka tidak akan pernah ridho jika Islam jaya. Mereka pun berfikir dengan sekuat tenaga disetiap waktu dari kehidupan mereka. Mereka kerahkan segala daya upaya yang mereka punya, harta, jiwa dan raga serta waktu dalam kehidupannya. Didalam otak mereka hanya ada satu kata.”Bagaiman Cara Menghancurkan Islam?”

Musuh-musuh Alloh itupun mulai melancarkan misinya, mereka sepakat untuk memerangi Islam dengan berbagai macam cara. Karena di Indonesia tidak memungkinkan perang secara fisik, maka mereka memerangi umat  Islam lewat perang pemikiran. Dan ini adalah suatu cara perang yang sangat efekti dan tidak membutuhkan pengorbanan harta dan jiwa yang banyak menurut mereka. Yahudi nashrani tau bahwa Islam akan mudah dihancurkan lewat jalan perang pemikiran. Mereka akan menghancurkan Islam lewat umat Islam itu sendiri. Dengan menghancurkan pemikiran-pemikiran generasi Islam serta ulama’.

Musuh-musuh Alloh memulai misi mereka dengan menghancurkan pemikiran lembaga-lembaga pendidikan yang lurus aqidahnya, terkhusus misalnya adalah Pondok Pesantren. Karena mereka yakin, lewat lembaga pendidikan Pondok Pesantren yang didalam Pondok Pesantren tersebut ditanamkan nilai-nilai aqidah islam yang lurus, akan tercipta muslim yang tangguh yang siap berkorban dengan seluruh upaya untuk menegakkan syari’t Islam, dan ini adalah hal yang paling ditakuti oleh yahudi nasrani dan para sekutunya.

Melihat hal itu semua, para musuh islam dan Alloh ini berfikir, bagaiman caranya supaya Pondok Pesantren tersebut tidak lagi menjadi wadah mencetak para ulama’, da’I dan mujahidin. Dan mereka menemukan jawabannya. Suatu Pondok Pesantren tidak akan menjadi wadah mencetak ulama’a/da’I dan mujahid manakala Pondok Pesantren tersebut tidak mengajarkan nilai-nilai islam yang benar. Dan musuh Alloh ini pun memulai misinya

Salah satu cara untuk menghancurkan pemikiran lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebut adalah, para Yahudi Nasrani bekerjasama dengan pemerintahan thoghut memberikan peluang bantuan kepada lembaga pendidikan Islam, mereka mengiming-imingi bantuan uang maupun barang dalam jumlah yang besar kepada lembaga-lembaga  pendidikan Islam dengan syarat agar lembaga-lembaga tersebut tidak mengajarkan kebencian terhadap orang-orang kafir. Supaya lembaga-lembaga tersebut megurangi jam pelajaran agama dan juga yang lebih mengerikan lagi adalah lembaga-lembaga Islam tersebut harus patuh dan taat, menuruti serta mengikuti, dan harus mengakui kebenaran pada peraturan-peraturan pemerintahan jahiliyah. Seperti di Indonesia adalah Pemerintahan berasaskan demokrasi yang jelas-jelas musyrik kepada Alloh.

Presiden kulit hitam pertama amerika serikat, Barrack Obama, pernah berkata, “saya akan mengalokasikan dana sebesar 2.000.000.000 (dua miliar) dolar untuk memerangi pengaruh-pengaruh sekolah Islam yang telah ‘mencekoki pikiran pemuda dengan pesan-pesan kebencian terhadap kami”. Kalau kita kurskan uang dua miliyar dolar ke mata uang rupiah (1 dolar sama dengan 10 rubu ruiah), maka akan kita dapati uang tersebut sebesar Rp 20.000.000.000.000,00 (duapuluh ribu miliyar rupiah), sungguh uang yang tidak sedikit jumlahnya.

Ustadz abu bakar ba’asyir Rohimahumulloh, seorang ulama’ yang lurus pada zaman ini perna berkata: “salah satu cara para musuh Alloh, yahudi dan nashrani dan para sekutunya menghancurkan Islam adalah dengan cara membantu para lembaga pendidikan Islam dengan syarat lembaga tersebut harus tunduk dengan hukum Negara yang Negara itu tidak berdasarkan hukum Islam, lembaga pendidikan Islam tersebut harus loyal terhadap pemerintahan  thoghut, lembaga Islam tesebut harus meniadakan ajaran-ajaran aqidah yang benar yang menurut orang kafir sebagai pelajaran yang mengajar kebencian terhadap orang kafir. Padahal ini adalah ajaran yang benar.

Cara musuh Alloh tersebut akhirnya membuahkan hasil. Kita ketahui bersama, bahwa diakhir-akhir ini banyak lembaga-lembaga pendidikan berbasis Islam yang dengan kebodohannya mengemis kepada pemerintahan thoghut supaya lembaganya diberi bantuan uang, atau gedung yang megah demi kemashlahatan katanya. Tetapi tentunya dengan syarat-syarat yang bathil, yang itu jelas dilarang oleh Alloh.

Suatu lembaga pendidikan akan mudah diberi bantuan jika memenuhi beberapa syarat standar pendidikan nasional atau bahkan internasional. Misalnya lembaga tersebut harus lunak aqidahnya, memiliki toleransi yang tinggi, nasionalisme, liberalisme, pluralisme, harus taat pada pemerintahan thogut (misalnya pemerintahan berasaskan demokrasi-pancasila), harus memperbanyak pelajaran umum ketimbang agama, harus anti jihad, tidak boleh ekstrim dan syarat-syarat lain.

Dengan demikian, suatu lembaga pendidikan Islam seperti Pondok Pesantren tidak akan lagi mencetak ulama’ malahan akan mencetak manusia-manusia yang anti Islam, memusuhi Islam, liberalis, dan manusia-manusia jahilyah lainnya. Akhirnya Islam akan hancur dengan cepat karena Pondok pesanren telah keluar dari visi misi aWal, dan musuh-musuh Islam yahudi-nashrani akan tertawa dengan senanghnya.

Islam akan mudah mereka hancurkan. Islam akan menjadi agama yang dibawah, rendah, tidak lagi menjadi agama rahmatal lil’alamin, umat islam dimana-mana akan terjajah, tertindas, kemaksiatan merajalela. Secara otomatis, bala bencana Alloh akan menimpa bumi dengan derasnya pula.

Oleh karena itu semua, maka penulis dalam penulisan karya tulis ilmiah ini akan mengangkat sebuah judul; “Penerapan Aqidah Al Wala’ Wal Bara’ di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan”.

B.     RUMUSAN MASALAH

    1. Bagaimana bentuk penerapan Aqidah Al wara’ Wal Bara’ di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan?
    2. Bagaimana pemahaman santri Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan tentang Aqidah Al wara’ Wal Bara’?
    3. Bagaimana wujud kongrit dari hasil penerapan Aqidah Al Wala’ Wal Bara’ Di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan?

C.    TUJUAN PENELITIAN

  1. Mengetahui bentuk penerapan Aqidah Al wara’ Wal Bara’ di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan.
  2. Mengetahui tingkat pemahaman para santri di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan tentang Aqidah Al wara’ Wal Bara’.
  3. Menetahui wujud kongrit dari hasil penerapan Aqidah Al Wala’ Wal Bara’ Di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan.

D.    MANFAAT PENELITIAN

Paper ini penulis buat dengan harapan dapat bermanfaat sebagai berikut:

  1. Dapat memberikan penjelasan serta pemahaman yang benar seputar aqidah Al Wala’ Wal Bara’ menurut ulama’ salafush sholeh.
  2. Dapat di jadikan sebagai pedoman bersikap dalam berWala’ dan berBara’ bagi murobbi, santri dan seluruh umat islam pada umumnya.
  3. Dapat  menjadi sumber rujukan bagi kaum mukminin dalam mengambil sikap dan langkah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
  4. Dapat dijadikan motivasi santri atau murobbi untuk semangat belajar tentang aqidah Alwala’ wal Bara’.
  5. Setelah para santri dan murobbi telah semangat untuk mempelajari, kemudian telah memahami aqidah al wala’ wal Bara’ dengan pemahaman yang benar menrut Alloh SWT dan Rosululloh SAW, semoga pada nantinya dapat lebih semangat untuk mendakwakan, memperjuangkan dan menerapkan aqidah Alwala’ wal Bara’ ini di Pondok Pesantren al mizan Muhammadiyah Lamongan.

E.     BATASAN MASALAH

Supaya karya tulis ilmiah ini lebih focus pada suatu pembahasan yang berkenaan dengan penerapan aqidah al wala’ wal Bara’ di Pondok Pesantren al mizan Muhammadiyah Lamongan, sehingga mudah dimengerti, maka penulis membatasi study kasus ini dengan melakukan penelitian yang mencakup hal-hal sebagai berikut;

  1. Bentuk penerapan Aqidah Al wara’ Wal Bara’ di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan.
  2. Pemahaman santri Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan tentang Aqidah Al wara’ Wal Bara’.
  3. Wujud kongrit dari hasil penerapan Aqidah Al Wala’ Wal Bara’ Di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan.

F.     DEFINISI OPERASIONAL

Definisi operasional ini perlu dipaparkan penulis supaya untuk menghindari controversial (perbedaan) ataupun supaya nanti tidak terjadi kesalahfahaman dalam karya ilmiah yang bejudul; “PENERAPAN AQIDAH ALWALA’ WAL BARA’ DI PONDOK PESANTREN AL MIZAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN”. Maka perlu adanya definisi istilah-istilah tentang judul yang di angkat oleh penulis tersebut.

Penerapan bermaknah: proses, cara, perbuatan menerapkan[1]. Aqidah bermaknah: kepercayaan pokok, keyakinan dasar[2]. Jadi maksud penulis adalah; penulis mencoba meneliti tentang proses ataupun cara Pondok Pesantren Almizan Muhammadiyah Lamongan dalam hal menanamkan keyakinan dasar dan kepercayaan dasar tentang aqidah Alwala’ wal Bara’.

Yang mana Alwala’ wal Bara’ sendiri bermaknah sebagaimana berikut; Kata Al-Wala’ menurut bahasa berarti; mencintai, menolong, mengikuti, mendekat kepada sesuatu. Kata Al-Wala’ menurut terminologi syariat berarti; penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang disukai dan diridhoi Allah berupa perkataan, perbuatan, kepercayaan dan orang. Wilayah Al-Wala’; apa yg dicintai Allah secara terus menerus dan penuh komitmen.

Kata Al-Bara’ menurut bahasa berarti; menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri, memusuhi. Kata Al-Bara’ menurut terminologi syariat berarti; penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dibenci dan dimurkai Allah dari perkataan perbuatan kepercayaan serta orang. Wilayah Al-Bara’; apa yang dibenci Allah. Ciri utama Al-Bara’; membenci apa yang dibenci Allah secara menerus dan penuh komitmen[3].

G.    SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Sistematika pembahasan dalam rangka karya tulis ilmiah ini adalah di buat sebagaimana berikut:

BAB I : PENDAHULIAN, pada bab pendahuluan memberikan wawasan tentang arah penelitian dilakukan, sehingga dapat diketahui tentang masalah dan konteknya, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, batasan masalah, definisi operasional dan lokasi penelitian.

BAB II : LANDASAN TEORI, bab ini memuat uraian tentang hal-hal yang berkaitan dengan aqidah Alwala’ wal Bara’. Dan juga memuat tentang seputar kePondok Pesantrenan. Mulai dengan pengertian Alwala’ wal Bara’, pengertian Pondok Pesantren, unsur-unsur Pondok Pesantren,kedudukan Alwala’ wal Bara’ dalam islam, rukun Alwala’ wal bara dan teori-teori yang lainnya yang berkenaan dengan kePesantrenan dan aqidah Alwala’ wal Bara’.

BAB III : METODE PENELITIAN, dalam bab ini penulis mengemukakan tentang hal-hal ataupun langkah-langkah penulis dalam melakukan penelitian yang disusun sebagai berikut; Jenis penelitian, populasi dan sampel, tempat dan waktu penelitian, teknik dan metode pengambilan data, serta teknik analisis data.

BAB IV : PEMBAHASAN, dalam hal ini penulis akan mengemukakan tentang hasil data yang telah di dapat dan mengolahnya sesuai dengan teknik analisis data yang telah diuraikan sebelumnya. Yang penulis sajikan dengan urutan sebagai berikut; Gambaran umum Pondok Pesantren al mizan Muhammadiyah Lamongan, sejarah berdirinya Pondok Pesantren Almizan Muhammadiyah Lamongan, visi dan misi Pondok Pesantren Almizan Muhammadiyah Lamongan, bentuk penerapan aqidah Alwala’ wal Bara’ di Pondok Pesantren Almizan Muhammadiyah Lamongan, pemahaman santri Almizan Muhammadiyah Lamongan berkenaan dengan aqidah Alwala’ wal Bara’, dan bentuk kongrit dari hasil penerapan aqidah Alwala’ wal Bara’ di Pondok Pesantren Almizan Muhammadiyah Lamongan.

BAB V : PENUTUP, penutup berisi tentang; Kesimpulan dan Saran.

 

__________________________________________________________________________ 

 

 BAB II

LANDASAN TEORI

A.    PENGERTIAN

Sebelum penulis membahas tentang “Penerapan Aqidah Al Wala’ Wal Bara’ Di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan”. Maka penulis akan paparkan pengertian-pengertian dari Aqidah Alwala’ Wal Bara’ dan Pondok Pesantren.

1.      Aqidah Al Wala’ Wal Bara’

Kata Al-Wala’ menurut bahasa berarti; mencintai, menolong, mengikuti, mendekat kepada sesuatu. Kata Al-Wala’ menurut terminologi syariat berarti; penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang disukai dan diridhoi Allah berupa perkataan, perbuatan, kepercayaan dan orang. Wilayah Al-Wala’; apa yg dicintai Allah secara terus menerus dan penuh komitmen.

Kata Al-Bara’ menurut bahasa berarti; menjauhi, membersihkan diri, melepaskan diri, memusuhi. Kata Al-Bara’ menurut terminologi syariat berarti; penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dibenci dan dimurkai Allah dari perkataan perbuatan kepercayaan serta orang. Wilayah Al-Bara’; apa yang dibenci Allah. Ciri utama Al-Bara’; membenci apa yang dibenci Allah secara menerus dan penuh komitmen.

Aqidah Al-Wala’ Wal-Bara’ adalah penyesuaian diri seorang hamba terhadap apa yang dicintai dan diridhoi Allah serta apa yang dibenci dan dimurkai Allah dalam perkataan perbuatan kepercayaan dan orang secara terus menerus dan penuh dengan komitmen[4].

2.      Pondok Pesantren

Untuk memberi definisi sebuah Pondok Pesantren, harus kita melihat makna perkataannya. Istilah  Pondok Pesantren terdiri dari dua kata, yaitu Pondok dan Pesantren Kata Pondok berarti tempat yang dipakai untuk makan dan istirahat. Istilah Pondok dalam konteks dunia Pesantren berasal dari pengertian asrama-asrama bagi para santri. Perkataan Pesantren sendiri berasal dari kata santri, yang dengan aWalan pe dan akhiran an berarti tempat tinggal para santri.

Dalam perkembangan sejarah bangsa Indonesia, khusus jawa, makna Pesantren sebagai tempat belajar kitab suci dari seorang kyai dan ahli dalam bidang agama dan tata nilai kesopanan, kesederhanaan pola hidup, dan kesetaraan sosial yang melingkupinya berkonotasi langsung dengan ajaran islam.

Bentuk Pesantren sebagai cita akal budi tetap dan has, tetapi isinya diganti dengan sarat islam. Karena itu, Pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional umat islam Indonesia untuk mempelajari, memahami, mendalami, menghayati, dan mengamalkan ajaran islam dengan menekankan pentingnya moral keagamaan sebagai pedoman prilaku sehari-hari [5].

B.     UNSUR-UNSUR PONDOK PESANTREN

1.      Kyai

Kiai adalah sebutan bagi alim ulama (cerdik pandai dalam ilmu agama islam)[6]. Istilah kyai bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan dari bahasa Jawa. Dalam bahasa Jawa, perkataan kyai dipakai untuk tiga jenis gelar yang berbeda, yaitu: 1.sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat; contohnya, “kyai garuda kencana” dipakai untuk sebutkan kereta emas yang ada di Kraton Yogyakarta; 2. gelar kehormatan bagi orang-orang tua pada umumnya; 3.gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada orang ahli agama Islam yang memiliki atau menjadi pimpinan Pesantren dan mengajar kitab-kitab Islam klasik kepada para santrinya.

Peran penting kyai dalam pendirian, pertumbuhan, perkembangan dan pengurusan sebuah Pesantren berarti dia merupakan unsur yang paling esensial. Sebagai pemimpin Pesantren, watak dan keberhasilan Pesantren banyak bergantung pada keahlian dan kedalaman ilmu, karismatik dan wibawa, serta ketrampilan kyai. Dalam konteks ini, pribadi kyai sangat menentukan sebab dia adalah tokoh sentral dalam Pesantren[7].

2.      Masjid

Sangkut paut pendidikan Islam dan masjid sangat dekat dan erat dalam tradisi Islam di seluruh dunia. Dahulu, kaum muslimin selalu memanfaatkan masjid untuk tempat beribadah dan juga sebagai tempat lembaga pendidikan Islam. Sebagai pusat kehidupan rohani,sosial dan politik, dan pendidikan Islam, masjid merupakan aspek kehidupan sehari-hari yang sangat penting bagi masyarakat. Dalam rangka Pesantren, masjid dianggap sebagai “tempat yang paling tepat untuk mendidik para santri, terutama dalam praktek sembahyang lima waktu, khutbah, dan sembahyang Jumat, dan pengajaran kitab-kitab Islam klasik.” Biasanya yang pertama-tama didirikan oleh seorang kyai yang ingin mengembangkan sebuah Pesantren adalah masjid. Masjid itu terletak dekat atau di belakang rumah kyai[8].

3.      Santri

Santri merupakan unsur yang penting sekali dalam perkembangan sebuah Pesantren karena langkah pertama dalam tahap-tahap membangun Pesantren adalah bahwa harus ada murid yang datang untuk belajar dari seorang alim. Kalau murid itu sudah menetap di rumah seorang alim, baru seorang alim itu bisa disebut kyai dan mulai membangun fasilitas yang lebih lengkap untuk Pondoknya.

Santri biasanya terdiri dari dua kelompok, yaitu santri kalong dan santri mukim. Santri kalong merupakan bagian santri yang tidak menetap dalam Pondok tetapi pulang ke rumah masing-masing sesudah selesai mengikuti suatu pelajaran di Pesantren. Santri kalong biasanya berasal dari daerah-daerah sekitar Pesantren jadi tidak keberatan kalau sering pergi pulang. Makna santri mukim ialah putera atau puteri yang menetap dalam Pondok Pesantren dan biasanya berasal dari daerah jauh. Pada masa lalu, kesempatan untuk pergi dan menetap di sebuah Pesantren yang jauh merupakan suatu keistimewaan untuk santri karena dia harus penuh cita-cita, memiliki keberanian yang cukup dan siap menghadapi sendiri tantangan yang akan dialaminya di Pesantren[9].

4.      Pondok

Definisi singkat istilah ‘Pondok’ adalah tempat sederhana yang merupakan tempat tinggal kyai bersama para santrinya. Di Jawa, besarnya Pondok tergantung pada jumlah santrinya. Adanya Pondok yang sangat kecil dengan jumlah santri kurang dari seratus sampai Pondok yang memiliki tanah yang luas dengan jumlah santri lebih dari tiga ribu. Tanpa memperhatikan berapa jumlah santri, asrama santri wanita selalu dipisahkan dengan asrama santri laki-laki.

Komplek sebuah Pesantren memiliki gedung-gedung selain dari asrama santri dan rumah kyai, termasuk perumahan ustad, gedung madrasah, lapangan olahraga, kantin, koperasi, lahan pertanian atau lahan pertenakan. Kadang-kadang bangunan Pondok didirikan sendiri oleh kyai dan kadang-kadang oleh penduduk desa yang bekerja sama untuk mengumpulkan dana yang dibutuhkan.

Salah satu niat Pondok selain dari yang dimaksudkan sebagai tempat asrama para santri adalah sebagai tempat latihan bagi santri untuk mengembangkan ketrampilan kemandiriannya agar mereka siap hidup mandiri dalam masyarakat sesudah tamat dari Pesantren. Santri harus memasak sendiri, mencuci pakaian sendiri dan diberi tugas seperti memelihara lingkungan Pondok.

Sistem asrama ini merupakan ciri khas tradisi Pesantren yang membedakan sistem pendidikan Pesantren dengan sistem pendidikan Islam lain seperti sistem pendidikan di daerah Minangkabau yang disebut surau atau sistem yang digunakan di Afghanistan[10].

5.      Kitab-kitab kuning klasik

Kitab-kitab Islam klasik dikarang para ulama terdahulu dan termasuk pelajaran mengenai macam-macam ilmu pengetahuan agam Islam dan Bahasa Arab. Dalam kalangan Pesantren, kitab-kitab Islam klasik sering disebut kitab kuning oleh karena warna kertas edisi-edisi kitab terdahulu kebanyakan berwarna kuning.

Pada masa lalu, pengajaran kitab-kitab Islam klasik merupakan satu-satunya pengajaran formal yang diberikan dalam lingkungan Pesantren. Pada saat ini, kebanyakan Pesantren telah mengambil pengajaran pengetahuan umum sebagai suatu bagian yang juga penting dalam pendidikan Pesantren, namun pengajaran kitab-kitab Islam klasik masih diberi kepentingan tinggi. Pada umumnya, pelajaran dimulai dengan kitab-kitab yang sederhana, kemudian dilanjutkan dengan kitab-kitab yang lebih mendalam dan tingkatan suatu Pesantren bisa diketahui dari jenis kitab-kitab yang diajarkan.

Kurang lebih ada delapan macam bidang pengetahuan yang diajarkan dalam kitab-kitab Islam klasik, termasuk: 1.nahwu dan saraf; 2.fiqh; 3.usul fiqh; 4.hadis; 5.tafsir; 6.tauhid; 7.taSAWwuf dan etika; dan 8. cabang-cabang lain seperti tarikh dan balaghah. Semua jenis kitab ini dapat digolongkan kedalam kelompok menurut tingkat ajarannya, misalnya: tingkat dasar, menengah dan lanjut. Kitab yang diajarkan di Pesantren di Jawa pada umumnya  sama[11].

C.    KEDUDUKAN ALWALA’ WAL BARA’ DI DALAM ISLAM

1.      Bukti Lurusnya KeIslaman Seseorang

Bukti lurusnya keIslaman seseorang adalah loyal terhadap Wali-Wali Alloh dan memusuhi para musuhNYA. Syaikh Muhammad bin Abdul Lathif bin Abdurrahman berkata, ‘Alloh SWT berfirman:

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka adalah pelindung sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Alloh itu, niscaya akan terjadinya kekacauan dimuka bumi dan kerusakan yang besar. (Al-Anfal [8]: 73)

Sebagian ulama’ terkemuka berkata, ‘fitnah dibumi adalah syirik, kerusakan yang besar adalah bercampurnya orang muslim dengan orang kafir dan taat kepada pelaku kemaksiatan, ditambah lagi merampas hukum Islam  dan merusak hakikat tauhid, sehingga akibatnya muncul kerusakan, dan hanya Alloh yang mengetahui.

Islam tidak akan lurus, amar ma’ruf dan nahi munkar tidak akan dapat tegak, dan bendera jihad tidak akan berkibar tanpa diiringi dengan cinta karena Alloh, benci karena Alloh, loyal terhadap Wali Alloh dan menentang para musuh Alloh. Rosululloh SAW bersabda: Tali iman yang paling kokoh adalah cinta karena Alloh dan benci Karena Alloh[12].

Alloh SWT berfirman:

Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, (kemudian) saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan rosulNYA (orang kafir dan musyrikin) (Al-Mujadilah [58]: 22)

Dalam tafsir ibnu katsir disebutkan tentang ayat ini bahwa Alloh menerangkan sifat-sifat orang mukmin yang benar-benar briman kepada Alloh dan percaya terhadap hari akhir. Bahwa mereka tidak akan suka atau mencintai orang-orang yang menentang, menolak ajaran Alloh dan Rosululloh SAW. Meskipun yang menentang itu ayah kandung, saudara kandung atau suku-bangsa sendiri.

Mereka itulah orang yang telah ditetapkan Alloh iman didalam hati mereka dan dikuatkannya dengan jiwa dan ruh daripadanya dan mereka pasti akan dimasukkan kedalam surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai dan akan kekal selamanya didalamnya. Alloh telah ridho kepada mereka dan merekapun telah rela pada Alloh. Merekalah hamba Alloh yang pasti beruntung dan bahagia[13].

Rosululloh SAW bersabda:

Seseorang bergantung kepada agama temannya, maka hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi temannya (HR. Ahmad)

Dari abu mas’ud Al-badari ra. Meriwayatkan secara marfu’;

Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang yang beriman, dan jangan biarkan seseorang memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa (HR.Abu Dawud)

Dekatkanlah dirimu sekalian kepada Alloh SWT dengan membenci para pelaku maksiat, pandanglah mereka dengan muka masam, carilah ridho Alloh dengan kemarahan mereka dan dekatkanlah dirimu sekalian kepada Alloh SWT dengan menjauhi mereka (HR. Ibn Syahin)

Ibnu Abbas ra berkata, “barang siapa cinta karena Alloh, benci karena Alloh, membela karena Alloh, dan memusuhi Karena Alloh, pasti akan mendapatkan pembelaan Alloh SWT. Seorang hamba tidak akan mendapatkan nikmat iman, meskipun banyak sholat dan puasa sampai dia seperti itu, yaitu sampai cinta, loyalitas, benci dan pemusuhannya karena Alloh SWT”.

Ibnu Abbas ra juga berkata; “pada umumnya persaudaraan manusia dilandasi karena kepentingan dunia, sehingga mereka tidak memperoleh apapun. Bahkan hari ini loyalitas, kecintaan, dan pergaulan manusia cenderung kepada kekafiran, kesyirikan, dan kemaksiatan. Maka seorang hamba hendaknya berhati-hati dari terlena bersama musuh-musuh Alloh SWT, gembira dan lunak kepada mereka, atau mempercayai mereka sebagai kawan dan pemimpin mereka, serta meminta pendapat dari mereka, sebab itu semua akan berakibat kepada kemurkaan Alloh SWT.

Imam Al-Qurthubi ra. Berkata ketika menafsirkan ayat ini:

Janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang diluar kalanganmu (Al-‘Imron [3]: 118)

Alloh SWT melarang hamba-hambaNYA yang beriman menjadikan orang-orang kafir yahudi-nashrani, pengikut hawa nafsu, dan ahli bid’ah sebagai teman dan mengambil pendapat mereka serta menyerahkan urusan kaum muslimin kepada mereka”

Syaikh Abdulloh bin Abdul Wahhab rohimakumulloh berkata, “perhatikanlah perkataan ibnu taimiyah, ‘tidak akan ada yang selamat dari syirik besar ini kecuali orang yang memusuhi orang-orang musyrik karena Alloh, hingga akhirnya jelas bagimu bahwa keIslaman seseorang tidak akan lurus tanpa memusuhi pelaku kesyirikan. Jika tidak memusuhi mereka, maka dia termasuk golongan mereka meskipun tidak melakukan kesyikikan tersebut. WAllohu a’lam bish showab[14].

2.      Konsekuwensi Syahadat Dan Syarat Syah Syahadat

Syaikh Abdurrahman bin Hasan berbicara tentang pembatal tauhid, “pembatal tauhid yang kedua adalah berlapang dada kepada siapa saja yang menyekutukan Alloh SWT dan berkasih sayang dengan musuh-musuh Alloh sebagaiman firman Alloh SWT,

Akan tetapi orang-orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Alloh menimpanya dan baginya azab yang besar. Yang demikian itulah disebabkan karena sesungguhnya mereka lebih cinta dunia daripada akhirat, dan bahwasanya Alloh tiada memberi petunjuk kepada kaum kafir. (An-Nahl [16]: 106-107)

Barangsiapa yang melakukan perbuatan itu maka tauhidnya batal, meskipun dia tidak melakukan kesyirikan. Alloh SWT berfirman,

Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhir, (kemudian) saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Alloh dan rosulNYA (orang kafir dan musyrikin)(Al-Mujadilah: 22)

Syaikhul Islam berkata, “Alloh mengabarkan bahwa tidak ada orang yang beriman berkasih sayang dengan mereka maka dia bukanlah orang yang beriman, beliau berkata, “mendekati kepada hal-hal yang dapat menimbulkan berkasih sayang hukumnya adalah haram”[15].

3.      Seseorang Belum Dikatakan Beriman Tanpa Membenci, Memusuhi, Dan Mengkafirkan Orang-Orang Musyrik

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimakumulloh berkata, “sekarang giliranmu, wahai orang-orang yang telah diberi nikmat Islam dan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan kecuali Alloh. Apabila kamu berkata, ‘inilah sesembahan yang benar dan aku tinggalkan sesembahan selain Alloh, akan tetapi aku tidak menolah orang-orang musyrik dan juga tidak berkomentar apapun terhadap mereka, maka jangan mengira dengan kata-kata itu kamu sudah dapat masuk Islam. Akan tetapi kamu harus membenci mereka, membenci orang yang mencintai mereka dan mencela serta memusuhi mereka, sebagaiman ibrahim dan pengikutnya berkata,

Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan apa yang kamu sembah selain Alloh, kami ingkari (kekafiran)mud an telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian suat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja (Al-Mumtahanah [60]:4)

Apabila seseorang berkata, ‘aku mengikuti Nabi SAW karena beliau dalam kebenaran, akan tetai aku tidak menentang lata, uzza, abu jahal serta orang-orang sepertinya, karena aku mereka tidak ada urusan denganku, maka keIslamannya tidak sah.

Syaikh Abdurrahman bin Hasan berkata, “ulama’ dahulu hingga sekarang, mulai dari sahabat, tabi’in, ulama’-ulama’ setelahnya dan seluruh ahlus sunnah telah sepakat  bahwa seseorang tidak disebut muslim seelum dia bersih dari syirik besar, berlepas diri dari syirik dan para pelakunya, membenci dan memusuhi mereka sesuai kemampuan serta mengikhlashkan seluruh amal untuk Alloh SWT saja. Alloh SWT berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuhKU dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad) karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rosul dan (mengusir) kamu (Al-Mumtahanah [60]: 1)

Tauhid seseorang tidak akan sempurna tanpa menjauhi ahli syirik, memusuhi mereka dan mengkafirkan mereka. Dalam hal ini ahli tauhid adalah orang-orang yang memisahkan diri, sebab mereka menjauhi ahli syirik, sebagaimana ibrahim AS menjauhi mereka.

Sebagian ulama’ najed menyebutkan tiga perkara dan apabila salah satu di antara tiga perkara itu ada dalam diri seseorang, maka orang tersebut wajib diperangi. Salah satu dari perkara tersebut adalah, tidak mengkafirkan orang-orang musyrikin atau ragu terhadap kekafirang mereka, sebab hal itu merupakan pembatal keislaman. Barangsiapa yang terjangkit sifat ini, maka dia telah kafir serta halal darah serta hartanya. Maka wajib memeranginya sampai dia mengkafirkan orang-orang musyrik tersebut. Sesungguhnya orang yang tidak mengkafirkan orang-orang musyrik tidak disebut orang yang membenarkan Al-Qur’an, sebab orang telah mengkafirkan orang-orang musyrik memerintahkan mengkafirkan mereka, memusuhi serta memeranginya.

Banyak orang yang mengucakan kalimat tauhid akan tetapi menyelesihi apa yang telah diucapkannya. Mengenai berbagai tipe orang yang menyelesihi kalimat tauhid, syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimakumullah berkata, “ada sebagian orang yang beribadah kepada Alloh SWT semata, namun tidak mengingkari syirik dan tidak memusuhi pelakunya. Ada juga orang yang memusuhi orang-orang musyrik namun tidak mengafirkan mereka. Golongan yang paling parah adalah orang yang mengamalkan tauhid, akan tetapi tidak mengetahaui urgensinya, tidak membenci serta mengafirkan orang yang meninggalkannya. Sedangkan golongan yang terakhir adalah orang yang eninggalkan syirik dan membencinya, namun tidak mengetahui urgensinya, tidak memusuhi pelakunya dan tidak mengafirkannya. Mereka adalah golongan yang telah menyilisihi agama para nabi. WAllohu a’lam.

Imam ibnu ‘Aqil rohimakumulloh berkata, “apabila engkau ingin mengetahui kedudukan umat islam pada suatu masa, janganlah melihat kepada ramainya mereka berada dipintu-pintu masjid, tidak pula gemuruhnya lantunan talbiyah, akan tetapi lihatlah sikap mereka terhadap golongan yang memusuhi syari’at ini[16].

D.    RUKUN AL-WALA’ WAL BARA’

1.      Membenci Orang Kafir Dan Tidak Menampakkan Kasih Sayang Kepada Mereka

Alloh SWT berfirman; Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolonganyang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS.Al-mujadalah [58]: 22) [17]

Didalam tafsir ibnu katsir disebutkan mengenai ayat ini, bahwa Alloh menrangkan sifat-sifat orang mukmin yang benar-benar breiman kepada Alloh dan percaya terhadap hari akhir. Bahwa mereka tidak akan suka atau mencintai orang-orang yang menentang, menolak ajaran Alloh dan Rosululloh SAW. Meskipun yang menentang itu ayah kandung, saudara kandung atau suku-bangsa sendiri

Mereka itulah orang yang telah ditetapkan Alloh iman didalam hati mereka dan dikuatkannya dengan jiwa dan ruh daripadanya dan mereka pasti akan dimasukkan kedalam surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai dan akan kekal selamanya didalamnya. Alloh telah ridho kepada mereka dan merekapun telah rela pada Alloh. Merekalah hamba Alloh yang pasti beruntung dan bahagia.[18]

2.      Tidak Mengambil Orang Kafir Sebagai Teman Kepercayaan Dan Tidak Menceritakan Rahasia Kaum Muslimin[19]

Alloh SWT berfirman;

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya (QS. Ali ‘Imron [3]: 118)

Dengan ayat ini, Alloh melarang orang-orang yang mukmin menjadikan orang-orang kafir, yahudi, nashrani, dan ornag-orang yang mengikuti hawa nafsu sebagai teman kepercayaan yang akan menuangkan pemikiran mereka pun dilarang mengamanahkan harta benda kepada mereka.

Didalam sunnah Abu Dawud dari Abu Huroiroh dari Nabi SAW beliau bersabda:

Seorang akan terpengaruh oleh temannya maka hendaklah masing-masing kalian memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya.

Dari mas’ud bahwa Nabi SAW besabda : Nilailah manusia bedasarkan siapa yang menjadi kawannya.

Lalu Alloh menjelaskan alasan Dia melarang menyambung ikaan pesaudaraan dengan firman Alloh, “…mereka tidak henti-hentinya mencelakakanmu.” Dia berfirman, “…kerusakan…” artinya mereka tidak akan berhenti besungguh-sungguh untuk merusakmu, meskipun mereka tidak akan pernah berhenti untuk membuat maker dan tipu daya . dan firman Alloh “… mereka senang kalaian susah,” yaitu merek sangat senang jika kalian susah dan sengsara.

3.      Tidak Mengangkat Orang Kafir Sebagai Pemimpin

Alloh SWT berfirman;

Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi Wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barangsiapa berbuat demikian, niscaya lepaslah dia dari pertolongan Alloh…(QS.Al-‘Imron [3]: 28)

Imam ath-thabrani berkata, “maknanya adalah janganlah kalian wahai orang-orang yang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai pelindung dan penolong, sehingga kalian memberikan loyalitas kepada din mereka, kalian akan menolong mereka dalam menentang dan membuka rahasia kaum muslimin. Sesungguhnya, orang yang melakukan demikian, dia akan terlepas sama sekali dari pertolongan Alloh, yaitu dengan perbuatan tersebut dia telah berlepas dari Alloh karena murtad dari din-NYA dan masuk kedalam kekafiran,”[20]

Alloh berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang kafir menjadi Wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kalian mengadakan alas an yang nyata bagi Alloh (untuk menyiksan kalia)? (QS. An-Nisa’ [4]: 144)

Imam ath-thabrani berkata, “Alloh berfirman kepada mereka, janganlah kalian memberikan loyalitas kepada orang kafir sehingga kalian menjadikan mereka pembantu (staf) selain orang-orang yang seagama dengan kalian (islam), sehingga kalian seperti golongan orang-orang munafik yang pasti masuk neraka.

Alloh SWT berfirman, pada; QS. Al-Maidah [5]: 51-58

 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: “Kami takut akan mendapat bencana”. Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu Keputusan dari sisi-Nya. Maka Karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka. Dan orang-orang yang beriman akan mengatakan: “Inikah orang-orang yang bersumpah sungguh-sungguh dengan nama Allah, bahwasanya mereka benar-benar beserta kamu?” rusak binasalah segala amal mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang merugi. Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, Maka Sesungguhnya pengikut (agama) Allah[423] Itulah yang pasti menang. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang Telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah Karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. [423]  yaitu: orang-orang yang menjadikan Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya.

Imam ath-thabrani berkata, “yang dimaksud Alloh dengan ‘barangsiapa diantara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.”

Beliau melanjutkan, “sebab, orang yang loyal kepada mereka dan membantu mereka dalam mengalahkan orang-rang mukmin, dia termasuk bagian dari agama dan ajaran mereka. Oleh karena itu, janganlah loyal kepada seseorang, kecuali kepada orang yang dia sendiri ridho dengan dinnya, sesungguhnya dia telah memusuhi hal-hal yang menyelisihi dan membuatnya marah sehingga konsekuensi hukumanya sama dengan konsekuensi yang berlaku padanya.”[21]

 

__________________________________________________________________________ 

BAB III

METODE PENELITIAN

A.    JENIS PENELITIAN

Untuk memecahkan masalah yang bersifat makro seperti halnya sebuah penelitian tentunya dibutuhkan metode yang cerdas dan komprehensif. Hal itu dimaksudkan agar menghasilkan penelitian yang akurat, valid, dan dipertanggung jawabkan.

Adapun penelitian yang akan dilakukan oleh penulis karya ilmiah ini adalah perupakan penelitian lapangan (field research) yang mengkaji tentang “ Penerapan Aqidah Al Wala’ Wal Bara’ Di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan”

Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Artinya, metode penelitian yang berlandasan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah (sebagai lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci.

B.     POPULASI DAN SAMPEL

Populasi dari penelitian ini adalah semua Santriwan dan Santriwati Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan.

Adapun sampel dari penelitian ini adalah; penulis mengambil sampel siswa/santri aliyah yang secara keseluruhan baik putra maupun putri berjumlah 158 siswa, yang kemudian penulis mengambil dari keseluruhan tersebut sebanyak 80 responden. Dengan perbandingan antara responden putra dan putrid adalah 2:3.

C.    TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN

Dalam pembuatan Al Bahts ini, penulis melakukan penelitian di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan.

Untuk waktu penelitian, penulis melakukan waktu penelitian pada tanggal 29 Mei -1 Juni 2011.

D.    TEKNIK DAN METODE PENGUMPULAN DATA

Menurut para ahli peneliti, teknik pengumpulan data adalah merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, maka peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.

Secara umum, sebagaiman yang dirumuskan oleh para ahli peneliti terdapat empat macam teknik pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan gabungan/triangulasi.

Pada karya tulis ilmiah ini, penulis akan menggunakan teknik dan metode penelitian sebagai berikut:

1. Pengamatan Berperan Serta (Partisipan Observation)

Metode observasi ini digunakan untuk memahami berbagai aspek prilaku subyek dan mengamati secara seksama lingkungan fisik, suasana, keadaan, peistiwa, tingkah laku dan sistem Penerapan Aqidah Al Wara’ Wal Bara’ di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan. Karena itu penulis terlibat langsung dengan kegiatan-kegiatan santri yang diamati atau yang digunakan sebagai sumber ata penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dilakukan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Karena disamping itu adalah, memang penulis adalah santri dari obyek penelitian (Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan).

2. Penyebaran Angket

Penulis selain dengan cara pengamatan yang besifat melihat dan merasakan secara langsung dari belangsungnya penerapan Aqidah Al Wala’ Wal Bara’ Di Pondok Pesantren Al Mizan Muhamamdiyah Lamongan, penulis juga mendapatkan data dari para santri, karena itu penulis menyebarkan angket yang berisikan pertanyaan-pertanyaan seputar hal yang diteliti. Penulis akan mendapatkan data dengan tingkat ke absahan yang lebih, karena dapat pengakuan langsung dari obyek penelitian.

E.     TEKNIK ANALISIS DATA

Setelah data-data terkumpul, maka penulis mengolahnya dan mengambil sebuah kesimpulan yang sebelumnya telah di koherenkan antara data-data dilapangan dengan landasan teori. Sehingga dapat diketahui tentang masalah Penerapan Aqidah Al Wara’ Wal Bara’ Di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan.

 

__________________________________________________________________________ 


BAB IV

PEMBAHASAN

A.    GAMBARAN UMUM PONDOK PESANTREN AL MIZAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN

Supaya karya tulis ilmiah ini nanti dapat di fahami dengan mudah oleh para pembaca, lebih-lebih dalam hal pembahasan tentang penerapan aqidah al wala’ wal Bara’ di Pondok Pesantren al mizan Muhammadiyah Lamongan. Maka terlebih dahulu, penulis akan mendeskripsikan tentang tempat obyek penelitian ini di laksanakan, yaitu di Pondok Pesantren al mizan Muhammadiyah Lamongan.

1.      Keadaan Geografis Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan

Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan terletak disebelah timur kota Lamongan, kurang lebih berjarak 2 Km dari pusat kota. Tepatnya berada di desa banjar mendalan Kec. Lamongan kab. Lamongan dan berbatasan dengan kecamatan deket kabupaten Lamongan. Dan Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan berada di lingkungan yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai pegawai negri sipil (PNS) dan sebagian yang lain berprofesi sebagai petani.

2.      Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan

Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan asal mulanya adalah panti asuhan Muhammadiyah cabang Lamongan. Panti asuhan Muhammadiyah cabang Lamongan, didirikan pada tanggal 17 agustus 1985, tepatnya di desa banjar mendalan kecamatan/kabupaten Lamongan atau lebih dikenal lagi dengan alamat JL. Jendral Sudirman NO.1 (utara monumen kadet soewoko) Lamongan-Jawa Timur.

Panti asuhan Muhammadiyah ini pada mulanya dirintis dan didirikan oleh Drs. HM. Syukron (alm) yang kemudia didukung oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Cabang Lamongan serta para tokoh dan sesepuh Muhammadiyah Lamongan. Beliau [Drs. HM. Syukron] adalah seorang mantan HMI (Komisaris UII Surakarta) dimasa ketua umumnya bapak H. Miftahul Farid (sekarang ketua umum MUI Bandung-Jabar) dan Drs. Syukron sebagai sekretarisnya pada tahun 1966-1970-an. Setelah tamat dari kuliahnya dan kembali ke Lamongan, beliau memulai karir perjuangannya menjadi kepala PGAA Lamongan (1976-1979) yang sekarang Aliyah Pembangunan, Dosen/Dekan UNSURI Lamongan (1979-1982), pengurus Pembina balai kesehatan islam Lamongan Muhammadiyah (1982-1984), dan tahun 1983 menerima amanat dari Bpk RH. Moeljadi untuk membangun masjid At Taqwa (Dapur-Sidokumpul), sekaligus menjadi ketua Takmirnya hingga tahun 2005 dan meninggal dunia pada tanggal 24 Maret 2005 dengan meninggalkan seorang istri dan 6 orang anak.

Di masjid At Taqwa itulah, beliau mulai menelurkan ide-idenya yang cemerlang yaitu beliau menginginkan adanya pengkaderan dengan system Pondok Pesantren dikalangan persyarikatan Muhammadiyah Khususnya di Lamongan kota, karena pada saat itu (sekitar tahun’80an) di Lamongan untuk mencari seorang menjadi ketua Cabang Muhammadiyah sangat sulit sekali. Dan di Masjid At Taqwa inilah beliau (HM. Syukron) mendirikan Madrasah Aliyah Muhammadiyah (1985) dan MTs Muhammadiyah (1986) yang diharapkan kelak menjadi pengkaderan bagi anak-anak khususnya dari kalangan Muhammadiyah dan umumnya umat islam, baik sebagai kader Ulama’, kader Pemimpin ataupun Kader Mubaligh. Murid-murid tersebut merupakan cikal bakal dari anak-anak asuh panti Asuhan Muhammadiyah cabang Lamongan, dimana murid-murid tresebut berasal dari keluarga kurang mampu yang sebagian besar di titipkan kepada para Aghniya’ yang lazim di sebut asuhan keluarga. Walaupun beliu dari keluarga nahdhiyin, namun setelah ia berguru di UII Surakarta dan HMI, rupanya pola piker dan langkah perjuangannya telah mengalami perubahan yang rasional dan modetn. Apalagi setelah di ambil menantuPCM di Klaten-Solo (Bpk. H. Mudzakir tahun 1970), yang membawa dampak positif dan inspirasi tersendiri untuk berfikir dan berjuang di lingkungan persyarikatan Muhamamdiyah.

3.      Visi Dan Misi Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan

Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan merupakan Pondok Pesantren yang mengkombinasikan system pendidikannya antara salaf [tradisional] dan khalaf [modern]. Karena itu, sabagai implementasinya Pesantren ini menerapkan pola pendidikan klasik juga modern yang diampuh oleh para guru alumnus dari perguruan tinggi negri maupun swasta.

Para praktisi pendidikan di Al Mizan telah sepakat bahwa visi dan misi sebuah lembaga pendidikan mempunyai peranan yang penting. Visi dan misi ibarat kompas yang mengarahkan kemana arah pendidikan itu dibawa. Demikian juga mau dijadikan apa santri/siswa didiknya banyak terletak pada visi dan misi dan dirumuskan.

Karena itu, Pesantren Al Mizan telah merumuskan sebuah visi dan misi yang cukup jelas.

VISI:

ü  Terbentuknya pribadi muslim dan muslimah yang siap menerima islam secara kaffah.

MISI:

ü  Memberikan ilmu tentang keimanan yang benar dan kuat

ü  Memberikan ilmu tentang pemahaman terhadap syari’ah

ü  Memberikan ilmu tentang afdholiyah amal

ü  Memberikan ilmu tentang sains dan teknologi

ü  Memberikan bimbingan dan uswah agar mampu mengamalkan dan mengajarkan ilmunya

ü  Luruskan niat dan selalu mengharap rahmat dari Alloh SWT[22].

B.     BENTUK PENERAPAN AQIDAH AL WARA’ WAL BARA’ DI PONDOK PESANTREN AL MIZAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN

Sejauh penulis mengamati tentang bentuk penerapan Aqidah Al Wala’ Wal Bara’ di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan, penulis belum sebegitu jelas dengan system pendidikan yang ada di Pondok tersebut. Menurut pengakuan dari para santri yang besar, mereka sebenarnya kurang sebegitu setuju dengan segala bentuk hal-hal yang itu dirasa bertentangan dengan aqidah Al Wala’ Wal Bara’. Contohnya saja; di kelas masih ada gambar thoghut pancasila. Yang mana pancasila merupakan azas dasar Negara Repulik Indonesia yang jelas-jelas menentang Alloh SWT dan Rosululloh SAW. Tetapi kenyataanya, di setiap kelas rata-rata akan kita jumpai hal yang demikian. Contoh lain yang semisal adalah; masih kita temui gambar foto presiden Susilo Bambang Yudoyono dan wakilnya boediono la’natullohi ‘alaih. Padahal presiden dan wakil presiden tersebut adalah munafik dan telah di fatwakan oleh para ulama’ ahluts tsughur telah murtad dari islam. Hal ini dikarenakan mereka telah menjalankan hukum dengan berhukum selain kepada Al qur’an dan Al hadits.

Pondok Al Mizan merupakan Pondok yang dalam pendidikannya menerapkan system perpaduan antara ilmu umum dan agama. Dari unit pendidikan yang ada, yaitu MTs Muhammadiyah Lamongan dan MA Muhammadiyah 9 Lamongan masih mengikuti kurikulum depag yang secara otomatis peraturannya harus sesuai dengan DEPAG yang mana DEPAG sendiri harus sesuai dengan Peraturan Perundang Undangan Republik Indonesia. Sehingga mau tidak mau, Walaupun itu adalah pelajaran yang salah misalnya seperti pancasila yang mendoktrinkan demokratisme dan nasionalisme yang itu jelas-jelas bertentangan dengan aqidah Al Wala’ Wal Bara’. Tetapi di Pondok Al Mizan masih di ajarkan.

Tenaga pengajar di Almizan juga sangat berfariasi, ada yang berlatar belakang pendidikan Pesantren yang faham akan ilmu agama islam secara benar, ada pula tenaga pengajar yang berlatar pendidikan umum yang tidak sebegitu faham dengan islam (muslim abangan/setengah-setengah pemahamannya terhadap islam). Sehingga dari kedua macam tenaga pendidik yang berbeda latar belakangnya tersebut, sering terjadi bentrokan aqidah dan perang dingin. Kadang kala para santri di buat bingung dengan masalah aqidah. Ada guru yang menyuruh untuk menghormati pancasila, tetapi para ustadz begitu gencar mengharamkan pancasila.

Akhri-akhir ini, setelah penulis mengamati dengan seteliti-telitinya, malah penerapan aqidah Al Wala’ Wal Bara’ malah sangat kurang sekali. Ini dikarenakan telah di gabungnya system pendidikan diniyah yang itu adalah agama islam murni dengan system sekolahan yang mengekor pada DEPAG yang itu adalah system campuran antara yang haq dengan yang bathil. Dengan di padukan antara waktu belajarnya pelajaran diniyah dengan sekolahan, maka ini sangat berpengaruh pada diri santri. Banyak yang menyayangkan akan hal itu, bukan Karena waktunya sekolah yang diperpanjang, tetapi lebih karena para santri merasa system gabungan ini telah menghilangkan pelajaran-pelajaran agama yang pokok. Misalnya saja pelajaran aqidah diniyah. Dulu ketika masih di pisah antara waktu pelajaran diniyah dan sekolahan, pelajaran aqidah islam diniyah yang itu sangat bagus sekali masih di ajarkan, tetapi setelah di gabungnya antara waktu pelajaran diniyah dan sekolah, pelajaran itu telah dihapuskan dan diganti dengan aqidah sekolahan yang mengekor pada depag. Ini adalah kerugian kemerosotan yang besar bagi “penerapan aqidah Al Wala’ Wal Bara’ di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah ini.

Inilah realita yang tengah terjadi di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan. Yang perlu di kaji dan di tata ulang. Agar supaya penerapan aqidah Al Wala’ Wal Bara’ yang itu adalah sangat pokok seharusnya bisa di ajarkan sepenuhnya pada santri.

C.    PEMAHAMAN SANTRI PONDOK PESANTREN AL MIZAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN TENTANG AQIDAH AL WARA’ WAL BARA’

Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman santri Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan tentang aqidah Al Wala’ Wal Bara’, maka penulis mengadakan penelitian dengan langsung menanyakan pada santriwan dan santriwati melalui angket penelitian. Dan dapat diperoleh data sebagaimana berikut:

PERTANYAAN

PRESENTASE JAWABAN

(DALAM %)

A

B

C

D

  1. Tahukah anda tentang aqidah al wala’ wal Bara’?
    1. Tidak tahu
    2. Sedikit tahu
    3. Tahu
    4. Bingung

54

23

19

5

  1. Sukakah kamu pada pelajaran aqidah?
    1. Suka sekali
    2. Biasa saja
    3. Membosankan
    4. Bingung

48

48

3

3

  1. Seringkah kamu membaca/belajar buku2 aqidah?
    1. Pernah
    2. Sering
    3. Jarang sekali
    4. Tidak tahu

53

23

23

3

  1. Ketika pelajaran fathul majid?
    1. Diam Memperhatikan
    2. Rame sama teman
    3. Diam tidak memperhatikan
    4. Tidak mau tau (CUEK GITU)

58

13

18

13

  1. Ketika pelajaran aqidah di sekolah?
    1. Males
    2. Ngantuk
    3. Membosankan
    4. Senang sekali

8

23

17

54

  1. Misalkan kamu mengharumkan nama Indonesia dengan memenangkan suatu olimpiade fisika tingkat intrenasional, kemudian kamu di undang SBY untuk makan bersama dengan beliau sebagai bentuk kehormatan belau kepadamu?
    1. Senang Sekali & saya hadiri undangan beliau
    2. Senang sekali & saya tolak undangan beliau
    3. Saya tolak tegas
    4. Bingung

67

14

9

12

  1. Pondokmu di beri bantuan barrack obama sebayak 1 Miliyar?
    1. Senang sekali, terima kasih obama
    2. Senang sekali, tidak terima kasih
    3. Saya tolak tegas (haram)
    4. Tidak tahu hrs bagaimana

33

7

35

27

  1. Kamu sekolah di sekolahan hindu karena sekolahan itu sangat bagus kualitasnya dan gratis 100%, BAGAIMANA?
    1. Wah, kebetulan nich (gratisan ^_^)
    2. Tidak mau
    3. Tidak tahu
    4. Bingung harus bagaimana

17

74

7

4

  1. Kamu punya teman sebangku, dia beragama hindu?
    1. Bisa di ajak kenalan nich
    2. G’ papa, nambah pengalaman
    3. Pindah bangku
    4. Haram

8

78

10

5

  1. Kamu di traktir oleh temanmu hindu?
    1. Asik, kebetulan lagi lapar
    2. Berterima kasih
    3. Saya tolak dg sopan
    4. Haram

27

27

45

3

  1. Kamu membalas dengan mentraktir temanmu hindu?
    1. Seharusnya kan gitu
    2. Harus, kan setia kawan
    3. Tidak mau
    4. Haram

29

32

34

7

  1. Kamu mengajak temanmu hindu ke rumahmu untuk silaturahim dengan keluargamu?
    1. gak papa
    2. terserah
    3. kalau dia mau
    4. sangat tidak mau

34

17

37

14

  1. Kamu di ajak temanmu hindu berkunjung ke rumahnya untuk silaturahim dengan keluarganya?
    1. ok la kalau begitu
    2. gak papa
    3. saya terima dg senang hati
    4. saya tolak

20

42

22

18

  1. Kamu mengajak temanmu hindu kerumahmu, untuk silaturahim dengan keluargamu karena ketika itu adalah hari raya idul fitri?
    1. ya gak papa kan
    2. kan toleransi beragama
    3. boleh2 saja
    4. haram

24

30

32

15

  1. Kamu di ajak temanmu hindu kerumahnya, untuk silaturahim dengan keluarganya, karena ketika itu adalah tahun baru imlek?
    1. Ok la kalau begitu
    2. Terima dg senang hati
    3. Saya tolak dg sopan
    4. Haram

29

7

54

12

  1. Bolehkah berteman dekat dengan orang hindu?
    1. Ya boleh2 saja
    2. Ngapain gak boleh
    3. Tidak tahu
    4. Haram

45

23

18

15

Dari hasil penelitian di atas, penulis menggaris bawahi tentang;

ketika para santri di Tanya tentang aqidah al wala’ wal Bara’. Para santri  mayoritas menjawab tidak tahu yang kalau di persentasikan adalah mencapai 54%, kemudian yang sedikit tahu adalah mencapai 23%. Sedangkan yang menjawab tahu hanya mencapai 19%. Anehnya lagi, ketika ditanya, apakah kamu tahu tentang aqidah al wala’ wal Bara’, maka dengan percaya dirinya dia menjawab bingung. Sungguh jawaban yang lucu bagi seorang santri yang sudah tinggi kedudukan kelasnya.

Ketika para santri di Tanya tentang “bolehkah berteman dengan orang hindu?” maka mayoritas para satri akan menjawa “ya boleh-boleh saja dan  ngapai nggak boleh”  yang kalau di jumlah mencapai 68%. Sedangkan para santri yang bingung akan hukum beteman dengan orang hindu mencapai 18%. Serta anehnya, para santri yang mengetahui tentang hukum berteman dengan orang hindu yang itu adalah orang kafir yang orang islam haram jika berteman dengan orang kafir, menempati urutan paling rendah, yakni hanya 15% saja.

Padahal Rosululloh SAW bersabda: Seseorang bergantung kepada agama temannya, maka hendaklah kalian melihat siapa yang menjadi temannya (HR. Ahmad)

Dari abu mas’ud Al-badari ra. Meriwayatkan secara marfu’; Janganlah kamu berteman kecuali dengan orang yang beriman, dan jangan biarkan seseorang memakan makananmu kecuali orang yang bertaqwa (HR.Abu Dawud).

Ketika para santri di Tanya tentang “Misalkan kamu mengharumkan nama Indonesia dengan memenangkan suatu olimpiade fisika tingkat intrenasional, kemudian kamu di undang SBY untuk makan bersama dengan beliau sebagai bentuk kehormatan belau kepadamu?” maka kebanyakan para santri akan menjawab “senang sekali, dan saya akan hadiri undangan beliau”.

Padahal, menurut aqidah al wala’ wal Bara’, sikap semacam ini adalah di larang di dalam islam. Kenapa kok dilarang? karena SBY adalah orang munafik, seorang presiden yang memerintah dan mengatur Negara dengan hokum selain hokum islam (alqur’an dan hadits). Kalau sudah seperti itu, maka dia SBY adalah murtad dan kafir setelah beriman.

Alloh SWT berfiman: barangsiapa yang berhukum dengan (hokum) selain yang Alloh turunkan (al qur’an), maka mereka itulah orang-orang yang kafir (QS. Almaidah:5:44)

Sedangkan kalau seandainya kita menghadiri undangan makan-makan bersamanya, maka kita juga sama halnya loyal kepadanya. Sedangkan loyal kepada orang kafir adalah haram di dalam islam.

Alloh SWT berfirman; barangsiapa di antara kamu (orang mukmin) yang loyal kepada mereka, maka sesungguhnya orang tersebut (orang mukmin) adalah bagian dari mereka (murtad setelah beriman) (QS. AL maidah: 5: 51) Ketika para santri di tanya tentang, “ apabila Kamu mengajak temanmu hindu kerumahmu, untuk silaturahim dengan keluargamu karena ketika itu adalah hari raya idul fitri?” maka para santri rata-rata akan menjawab seperti ini, “ya gak papa kan, kan toleransi beragama, boleh2 saja” dan ketika para santri di Tanya tentang hal ini, “apabila Kamu di ajak temanmu hindu berkunjung ke rumahnya untuk silaturahim dengan keluarganya?” sebagian mereka akan menjawab dengan jawaban, “ok la kalau begitu, gak papa, saya terima dg senang hati”. Padahal sikap semacam ini akan menimbulkan rasa kasih sayang dengan orang kafir tersebut. Alloh berfirman:   Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Meraka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolonganyang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS.Al-mujadalah [58]: 22)

Demikianlah realita yang terjadi tentang pemahaman para santri Pondok Pesantren Almizan Muhammadiyah Lamongan tentang aqidah Alwala’ wal bar’.

E.     WUJUD KONGRIT DARI HASIL PENERAPAN AQIDAH AL WALA’ WAL BARA’ DI PONDOK PESANTREN AL MIZAN MUHAMMADIYAH LAMONGAN

Setelah penulis melakukan pengamatan dengan metode yang sebelumnya telah dijelaskan, yaitu Berperan Serta langsung dengan lingkungan obyek penelitian (partisipan Observation). Maka penulis bisa mengamati secara langsung tentang penerapan aqidah Al Wala’ Wal Bara’ di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah.

Sebenarnya kalau dilihat dan dirasakan secara langsung melalui terjun dan hidup di podok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan. Maka penulis merasakan betapa kurangnya penerapan aqidah Al Wala’ red.. ini dapat di buktikan dengan mengamati dan mempertanyakan kepada para santri yang kebanyakan masih asing dengan aqidah Al Wala’ red.

Apalagi sejak di gabungnya system pendidikan diniyah (yang didalamnya di ajarkan ilmu agam islam murni) dan system pendidikan sekolah depag (system pendidikan yang peraturannya mengikuti peratuaran Negara republic Indonesia yang didalam kurikulumnya mencampurkan pelajaran islam dan umum). Maka semakin dapat dirasakan sangat kurang sekali dalam hal wujud kongrit penerapan aqidah Alwala’ red. Ini dikarenakan setelah di campurnya system diniyah dengan depag maka secara otomatis akan mengurangi jam pelajaran diniyah, karena waktunya yang tidak mencukupi.

Banyak santri yang mengeluhkan akan hal ini. Para santri merasa, setelah digabungnya pelajaran diniyah, maka mereka semakin merasakan kekuarangan akan ilmu-ilmu keislaman. Ya karena hal diatas, yakni semakin berkurangnya waktu pelajaran agama yang secara otomatis akan mempengaruhi wawasan keilmuan santri tentang agama islam, khususnya dalam hal aqidah.

__________________________________________________________________________

BAB V

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Dari penelitian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Bentuk penerapan aqidah Al Wala’ Wal Bara’ di Pondok Pesantren Almizan Muhammadiyah Lamongan masih sangat kurang. Ini dapat dilihat dari hal-hal yang bertentangan dengan aqidah Al Wala’ Wal Bara’ masih diterapkan di Pondok Pesantren Almizan Muhammadiyah Lamongan. Padahal menurut syari’ah, hal tersebut seharusnya tidak boleh diterapkan.
  2. Pemahaman santri Al Mizan tentang aqidah Al Wala’ Wal Bara’ masih sangat kurang. Mereka para santri mengetahui aqidah Al Wala’ Wal Bara’ hanya sebatas ikut-ikutan saja tanpa di dasarkan pada ilmu yang benar. Kalaupun ada santri yang benar-benar faham, maka jumlahnya sangat minoritas.
  3. Wujud kongrit dari dari hasil penerapan aqidah al waa’ Wal Bara’ di ponsok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan sangat kurang. Ini dikarenakan tidak adanya system yang mendukung di terapkannya aqidah Al Wala’ Wal Bara’ di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan. Masih banyak para santri atau bahkan ustadz/bpkibu dewan guru yang dalam prilaku sehari-hari masih bertentangan dengan aqidah Al Wala’ Wal Bara’.

SARAN

Penulis bepesan kepada seluruh warga Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan dari struktur paling atas sampai struktur paling rendah:

  1. Untuk senantiasalah kalian bertaqwa kepada Alloh SWT semata. Jangan perna kalian takut dengan para mahluk Alloh, baik itu dari golongan jin maupun manusia. Kalian jangan perna takut kepada semua itu. Takutlah hanya kepada Alloh SWT saja tanpa mempersekutukanNya dengan sesuatupun.
  2. Jadikan al qur’an dan al hadits sebagai way of life dalam hidup kalian. Karena denagan begitu, kamu akan dapat dipastikan bahagia didunia dan di akhirat.
  3. Jalankan Pondok Pesantren dengan system yang tidak bertentangan dengan perundang-undangan Alloh SWT dan rosulnya, kalau sudah begitu. Maka rahmat Alloh akan senantiasa menaungi Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan yang kita cintai ini.
  4. Jangan pernah berWala’ dengan pemerintah yang kafir, karena dengan kalian berWala’ dengan pemerintahan yang kafir tersebut. Maka rahmat Alloh akan dicabut dari Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan ini.
  5. BerBara’lah kalian semua kepada semua musuh-musuh Alloh dan Rosululloh SAW serta musuh kaum muslimin. Karena kalau tidak, maka perlu di pertanyakan keimanan kalian, padahal aqidah Al Wala’ Wal Bara’ adalah salah sattu sayarat syah syahadat dan salah satu ciri hamba-hamba yang beriman.
  6. Untuk dewan asatidza, antum harus berani menanamkan, menerapkan dan mendakwahkan serta memperjuangkan aqidah Al Wala’ Wal Bara’ di Pondok Pesantren Al Mizan Muhammadiyah Lamongan ini. Jangan perna antum semua takut kepada manusia, lebih-lebih pengurus yang kebanyakan mereka masih belum faham akan hal ini. Kalau seandainya kalian ditetang dengan di ancam akan di keluarkan dari ma’had tercinta ini. Kalian jangan pernah takut lantas mundur secara pengecut. Kalian harus ingat ayat ini: Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS, Fushilat :41:30-32)
  7. Untuk para santri; antum harus semangat belajar memperdalam ilmu agama islam. Bukankah Rosululloh SAW pernah bersabda; barang siapa yang dikehendaki baik oleh Alloh SWT. Maka Alloh akan memahamkan kepadanya ilmu agama. Ini adalah hadits Rosululloh yang harus kita jadikan penyemangat dalam menuntut ilmu. Kalau kalian mengaku ingin menjadi berubah menjadi baik, maka seharusnya kalian memperdalam ilmu agama. Sudah banyak pemuda yang bejat akhlaq dan aqidahnya, apakah kalian ingin ikut-ikutan kebanyakan para pemuda tersebut yang mereka semua adalah calon penghuni neraka sya’ir?

[1] WJS. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka : 2005), 1180

[2] WJS. Poerwadarminta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka : 2005), 20

[3] http://blog.re.or.id/konsep-al-Wala-Wal-bara-dalam-aqidah-islam.htm

[4] http://blog.re.or.id/konsep-al-Wala-Wal-bara-dalam-aqidah-islam.htm

[5] Fadlulah, Dinamika System Pendidikan Islam Diindonesia, (Jakarta: Diadit Media 2008), 101-102

[6] Ibid, 565

[7] Mayra Walsh , Pondok Pesantren Dan Ajaran Golongan Islam Ekstrim, 8

[8]  Ibid, 9

[9] Ibid , 9

[10] Ibid , 10

[11] Ibid, 11

[12] Abu Abdurrahman Al-Atsari, Memusuhi Penguasa Murtad, (Solo: Media Islamika: 2008), 67-69

[13] Salim Bahreisy, Terjemahan Tafsir Ibn Katsir Jilid 8, (Surabaya: PT Bina Ilmu 2007), 78

[14] Abu Abdurrahman Al-Atsari , Memusuhi Penguasa Murtad , (Solo: Media Islamika: 2008), 69-73

[15] Ibid , 73-75

[16] Ibid : 76

[17] Aiman Azzawahiri, Al-Wala’ Wal Bara’, (Solo: Media Islamika: 2007),  31

[18] Salim Bahreisy, Terjemahan tafsir ibnu katsir Jilid 8, (Surabaya: PT Bina Ilmu 2007),78

[19] Aiman Azzawahiri, Al-Wala’ Wal Bara’, (Solo: Media Islamika: 2007), 55

[20] Ibid , 19-20

[21] Ibid, 19-21

[22]Suwito, Maknah Pendidikan Mubaligh Bagi Santri Pondok Pesantren, Study Kaderisasi Mubaligh di Pondok Pesantren Almizan Muhammadiyah Lamongan, (Surabaya: Program Pascasarjana Magister Study Islam Universitas Muhammadiyah Surabaya 2008), 148

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Tegak Di Atas Tauhid & Sunnah

Meniti Jejak Generasi Terbaik

Catatanku

Blog Lain Untuk Berbagi

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Pakde Azmi

Guru sing Pengen Rejekine Koyok Konglomerat, Guru sing pengen Otak'e koyok Bill Gate, Guru sing pengen Lakune koyok Nabi Muhammad SAW

evifitri

A topnotch WordPress.com site

Dendy Agung Santoso

Jurnalis muda, mandiri dan kreatif dari team YUFADEL

Belajar Foto

Dont just read it, DO IT......!!

%d blogger menyukai ini: