CATATAN IMANKU

Hidup Dalam Dentuman Jihad, Mati Dalam Kemuliaan Syahid

Sangkar Besi Tak Mampu Mengubah Elang Menjadi Nuri

penjaraDalam setiap perjuangan untuk menegakkan sebuah nilai atau paham baik yang hak maupun yang batil pasti akan berhadapan dengan namanya resiko. Betapa banyak orang yang mati sia-sia demi memperjuangkan paham batil seperti demokrasi, komunis, sosialis, liberal dan paham pagan lainnya.

Dan betapa banyak juga para tokoh pengusung idiologi batil yang harus mendekam bertahun-tahun didalam penjara demi mempertahankan idiologi yang diyakininya. Sebagian dari tokoh tersebut bahkan ada juga yang harus mati ditempat pengasingan.

Jika perjuangan menegakkan kebatilan saja beresiko maka perjuangan menegakkan dienulhaq tidak kalah berat juga resikonya. Apalagi perjuangan menegakkan dienulhaq bukan hanya akan membawa pelakunya kepada keuntungan dunia namun juga kebahagiaan akhirat bagi yang ikhlas dalam menitinya.

Allah ‘azza wa jalla mengingatkan kita akan resiko berpegang teguh dalam perjuangan menegakkan dienul haq sebagai sebuah keniscayaan dengan firmanNya:”Dan (ingatlah),ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu,atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS Al Anfal:30).
Dalam ayat tersebut Allah menyebutkan bagaimana makar jahat orang kafir untuk menghambat tegaknya tauhid di muka bumi.Mereka mencoba memadamkan cahaya tauhid dengan membungkam para pejuangnya dengan penangkapan,penyiksaan,penjara,pembunuhan dan pengusiran.Namun usaha mereka akan sia-sia sebab Allah akan membalas makar mereka demi nampaknya tauhid di tengah kehidupan manusia.

Dari sekian resiko perjuangan yang mungkin akan dialami oleh para pejuang tauhid adalah penjara atau sangkar besi yang dibuat thoghut dan orang-orang kafir untuk mengasingkan para mujahid. Ketika disebut penjara maka pemahaman orang awam adalah tempat dikurungnya (dihukumnya) para pelaku kriminal yang membahayakan masyarakat.

Walaupun pada kenyataannya tidak semua mereka yang berada di penjara adalah pelaku kriminal. Contohnya adalah para pejuang tauhid yang kini berada di penjara dikarenakan kalimat kebenaran yang disampaikan atau karena jihad yang dilakukan. Namun ternyata dakwah dan jihad yang merupakan bagian dari ajaran islam dianggap sebagai kejahatan oleh orang-orang kafir sehingga pelakunya harus dihukum.

Sangkar besi (penjara) telah menjadi alat bagi para penguasa untuk membungkam para lawan yang menentangnya sejak zaman dahulu kala. Dan penjara juga telah menjadi bagian sejarah tidak terpisahkan dari lahirnya para tokoh besar dalam dunia islam. Para tokoh inilah yang  tetap teguh memegang prinsip yang diyakininya meskipun jasadnya terkurung dalam penjara penguasa dzalim.

Namun sejarah telah mencatat juga bahwa penjara tidak pernah efektif untuk membungkam kebenaran yang disuarakan oleh mujahid dan da’i. Bahkan sebaliknya penjara telah menjadi kampus yang membuat para pejuang tauhid lebih dewasa, lebih mumpuni, lebih inovatif dan lebih bersungguh-sungguh dalam jihad.

Pada zaman ulama salaf kita mengenal sosok Imam Ahmad bin Hambal imamnya ahlusunnah yang telah menghabiskan sebagian besar waktunya dalam penjara penguasa zalim karena komitmennya memegang manhaj ahlussunnah yang berkeyakinan bahwa al qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk.

Keyakinan Imam Ahmad bin Hambal ketika itu bertentangan dengan keyakinan pihak penguasa yang meyakini bahwa al qur’an adalah makhluk. Atas keteguhannya memegang prinsip inilah Imam Ahmad kemudian dijebloskan kedalam penjara. Dinginnya penjara, beratnya siksaan serta lamanya waktu penantian tidak mampu merontokkan prinsip yang diyakini oleh Imam Ahmad. Berkat keteguhan beliau inilah maka Allah memelihara aqidah umat hingga kini yang tetap meyakini bahwa al qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk.

Ratusan tahun setelah masa Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah kitapun mengenal ulama teladan yang keharuman namanya terus semerbak hingga kini.Beliau adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah ulama yang paling faqih dan paling produktif dalam berkarya pada zamannya. Nasib beliau pun tidak berbeda dengan Imam Ahmad bin Hambal yang harus menghabiskan sebagian umurnya didalam sangkar besi penguasa zalim.

Namun tahukah kalian apa yang diucapkan Ibnu Taimiyah tatkala ia dijebloskan dalam penjara dikarenakan keteguhannya dalam memegang prinsip? Inilah ucapan sang ulama mujahid mahkotanya ulama salaf,”Apa yang bisa dilakukan oleh musuhku? Taman (ilmu dan iman) ada didalam hatiku yang aku bawa kemana saja, jika mereka memenjarakanku maka itu adalah uzlah bagiku dan jika mereka membunuhku maka itu syahid bagiku,”.

Keberadaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah didalam penjara tidak menjadikan beliau bungkam dari menyuarakan kebenaran. Bahkan karya-karya besar beliau seperti Majmu Fatawa ditulis didalam penjara. Mereka bisa memenjarakan jasad Ibnu Taimiyah tapi tidak bisa memenjarakan hati dan intelektual Ibnu Taimiyah.

Penjara Thoghut terus melahirkan para tokoh-tokoh pejuang islam hingga kini. Tercatatlah Sayyid Qutb Rahimahullah yang telah menghasilkan karya fenomenal kitab Tafsir Fidzilalil Qur’an selama dalam penjara thoghut mesir. Akhirnya Sayyid Qutb syahid dalam tiang gantungan thoghut mesir.

Beliau gugur sebagai pemenang,sebab satu incipun ia tidak bergeser dari keyakinannya sampai maut menjemputnya. Siksaan thoghut mesir memang bisa melukai jasad Sayyid Qutb tapi tidak bisa mengoyak keyakinan yang bersarang dalam dada Sayyid Qutb.

Dan pada kurun kita sekarang ini juga terus lahir para tokoh pejuang Tauhid dari sanggar uzlah bernama penjara. Diantara mereka adalah imam dakwah tauhid abad ini Syaikh Abu Muhammad ‘Ashim Al Maqdisi Hafidzahullah, Syaikh Ali Hudhair bin Hudhair dan Syaikh Nasir bin Fahd. Bahkan diantara para mujahid yang pernah merasakan dinginnya dinding penjara tatkala keluar justru menjadi singa-singa jihad yang terus mengaum pada kancah-kancah pertempuran.

Diantara mereka bahkan menjadi komandan mujahidin seperti Syaikh Abu Mush’ab Az Zarqawi Rahimahullah yang menjadi amir tandzim Al Qaedah Iraq.Dan beliau tetap aktif dan istiqomah dalam jihad hingga syahadah menjemputnya. Ada juga Umar Al Faruq & Syaikh Yahya Al Libi yang setelah  berhasil melarikan diri dari penjara salibis Amerika di Bagram Afhganistan kembali bergabung dengan mujahidin dan melanjutkan karir jihadnya.

Dan ada ratusan singa-singa tauhid yang kembali mengaum dan menerkam musuh di medan jihad tidak lama setelah bebas dari sangkar besi thoghut.Hal ini seperti yang terjadi di Afghanistan,Iraq,Pakistan dan Palestina. Hal yang tidak berbeda juga terjadi di negeri kita Indonesia. Para thoghut tidak bisa mematikan idiologi para da’i dan mujahid dengan cara mengurung mereka dalam sangkar besi.

Ustadz Aman Abdurrahman dan Ustadz Abu Bakar Basyir-semoga Allah membebaskannya-adalah sebagian dari contoh bagaimana dinding penjara tak mampu melemahkan prinsipnya. Tatkala beliau berdua bebas dari penjara thoghut maka keduanya kembali giat menyebarkan dakwah tauhid sampai kemudian keduanya harus dijebloskan kembali kedalam penjara.Namun demikian dari balik terali besi pun mereka berdua tetap gigih menyerukan kebenaran melalui risalah yang ditulis yang membuat fir’aun dan antek-anteknya merasa tidak nyaman.

Berbagai upaya thoghut untuk melemahkan prinsip pada akhirnya sia-sia. Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Allah, “Allah akan membalas makar mereka,dan Allah adalah sebaik-baik pembuat makar” (QS Al Anfal:30).

Ternyata sangkar besi yang direncanakan oleh thoghut untuk membuat jera para pejuang tauhid justru menjadi madrasah yang mematangkan aqidah, intelektual dan spiritual mereka. Sangkar besi ternyata tidak mampu merubah elang menjadi nuri dan tidak mampu menyulap singa menjadi kambing.

Para singa tauhid inilah seperti yang Allah katakan dalam firmanNya:”Diantara orang-orang mukmin itu ada orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan diantara mereka ada yang gugur,dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak mengubah (janjinya),”(QS Al Ahzab:23).

Dan mereka itulah tentara Allah yang mendapatkan jaminan dari Allah dengan firmanNya,”Dan sesungguhnya bala tentara kami itulah yang pasti menang”.(QS As Saffat:173).

Dan jika ada yang berkata,”tidak sedikit dari para ikhwan setelah keluar dari penjara menjadi lemah tauhid dan jihadnya bahkan  sampai jera dari perjuangan “. Maka Allah ‘azza wa jalla berfirman,”Apakah manusia menyangka bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan  mengatakan,”aku telah beriman”,dan mereka tidak diuji?

Dan sungguh,kami telah menguji orang-orang sebelum mereka,maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta”.(QS Al ‘ankabut:2-3). Dan  saya katakan,”jika ada ikhwan yang melemah tauhid dan jihadnya setelah keluar dari penjara Thoghut bahkan sampai jera dari perjuangan,maka sesungguhnya sebenarnya mereka selama ini bukan elang tapi mereka memang nuri hanya saja mereka berkawan dengan elang,dan sesungguhnya selama ini mereka bukan singa akan tetapi mereka adalah kambing yang memakai mantel bercorak kulit singa”.

Wallahu musta’an,

Abu Usamah/shoutussalam.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 5 Februari 2014 by in Aqidah, Dienul Islam, Muslim Cerdas.
Tegak Di Atas Tauhid & Sunnah

Meniti Jejak Generasi Terbaik

Catatanku

Blog Lain Untuk Berbagi

Catatanku

Ini adalah album yang berisi catatan yang saya tulis dalam perjalanan waktu hidup. Catatan yang terinspirasi dari apa yang saya lihat, saya baca, saya dengar, dan saya rasakan.

Pakde Azmi

Guru sing Pengen Rejekine Koyok Konglomerat, Guru sing pengen Otak'e koyok Bill Gate, Guru sing pengen Lakune koyok Nabi Muhammad SAW

evifitri

A topnotch WordPress.com site

Dendy Agung Santoso

Jurnalis muda, mandiri dan kreatif dari team YUFADEL

Belajar Foto

Dont just read it, DO IT......!!

%d blogger menyukai ini: